Menuntut ilmu merupakan kewajiban setiap kaum muslimin dan
muslimat, mulai dari buaian sampai kuburan, termasuk didalamnya para nabi dan
Rasul utusan Allah SWT. Coba kita simak kisah nabi Musa as. Suatu hari, seorang dari Bani Israil menemui Musa dan kemudian bertanya,
“Wahai Nabiyullah, adakah di dunia ini orang yang lebih berilmu darimu ?”
ujarnya. Tersentak, Nabi Musa AS pun menjawab, “Tidak”. Tentu saja, siapa yang
mampu menandingi ilmu Musa, utusan Allah kala itu. Sumber tuntunan agama dan
sumber pengetahuan wahyu Allah ada di genggaman Musa. Ia memiliki Taurat dan
beragam mukjizat dari-Nya.
Namun, rupanya Allah memiliki hamba lain selain Musa yang lebih berilmu.
Allah pun menegur dengan mewahyukan pada Musa bahwa tak seorang pun di muka
bumi yang mampu menguasai semua ilmu. Tak hanya Musa, di belahan bumi lain pun
terdapat seorang yang memiliki ilmu luar biasa. Ilmu itu tak hanya dimiliki
Musa. Orang itu juga seorang Nabi. Mengetahui hal tersebut, sontak Musa pun
ingin berguru kepada orang tersebut. Ia bersemangat ingin menuntut ilmu dan
menambah pengetahuannya.
Sesungguhnya teguran Allah Swt itu mencetuskan keinginan yang kuat dalam
diri Nabi Musa AS untuk menemui hamba yang shaleh itu. Di samping itu, Nabi
Musa AS juga ingin sekali mempelajari ilmu dari Hamba Allah tersebut. Nabi Musa
AS kemudian menunaikan perintah Allah SWT itu dengan membawa ikan di dalam
wadah dan berangkat bersama-sama pembantunya yang juga merupakan muridnya,
Yusya bin Nun.
Mereka berdua akhirnya sampai di sebuah batu dan memutuskan untuk
beristirahat sebentar karena telah menempuh perjalanan cukup jauh. Ikan yang
mereka bawa di dalam wadah itu tiba-tiba meronta-ronta dan selanjutnya terjatuh
ke dalam air. Allah SWT membuatkan aliran air untuk memudahkan ikan sampai ke
laut. Yusya` tertegun memperhatikan kebesaran Allah SWT menghidupkan kembali
ikan yang telah mati itu.
Setelah menyaksikan peristiwa yang
sungguh menakjubkan dan luar biasa itu, Yusya’ tertidur dan ketika terjaga,
beliau lupa untuk menceritakannya kepada Nabi Musa AS. Mereka kemudian
meneruskan perjalanan lagi, dan keesokan paginya. Ibn Abbas berkata, “Nabi Musa
sebenarnya tidak merasa letih sehingga baginda melewati tempat yang
diperintahkan oleh Allah supaya menemui hamba-Nya yang lebih berilmu itu.”.
Pejalanan melelahkan keduanya hingga mereka merasa lapar. Ketika Musa
menanyakan bekal untuk makan, Yusya baru teringat pada si ikan. “Saat kita
istirahat di batu tadi, sungguh aku benar-benar lupa mengabarkan tentang ikan
itu. Tidaklah yang melupakanku untuk mengabarkannya padamu kecuali setan. Ikan
itu kembali ke laut dengan cara yang aneh sekali,” ujar Yusya. Musa pun
langsung mengetahui itu adalah sebuah tanda, “Itulah tempat yang kita cari,”
ujar Musa bersemangat.
Lupa sudah rasa lapar tadi, keduanya pun kembali ke arah semula tempat
mereka beristirahat. Terdapat banyak pendapat tentang tempat pertemuan Musa
dengan Khidir. Ada yang mengatakan bahwa tempat tersebut adalah pertemuan
Laut Romawi dengan Persia yaitu tempat bertemunya Laut Merah dengan Samudra
Hindia. Pendapat yang lain mengatakan bahwa lautan tersebut terletak di tempat
pertemuan antara Laut Roma dengan Lautan Atlantik. Di samping itu, ada juga
yang mengatakan bahwa lautan tersebut terletak di sebuah tempat yang bernama
Ras Muhammad yaitu antara Teluk Suez dengan Teluk Aqabah di Laut Merah.
Ketika mereka telah Sampai pada tempat yang mereka tuju dan bertemu dengan
sosok pria yang wajahnya tertutup sebagian oleh kudung. Sikapnya tegas
menunjukkan kesalehannya. Pria itulah ialah Nabi Khidir AS. “Bolehkah
aku mengikutimu agar kau bisa mengajarkanku sebagian ilmu di antara ilmu-ilmu
yang kau miliki ?” ujar Nabi Musa AS kepada Khidir AS. Nabi Khidir AS
menjawab, “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup bersabar
bersama-samaku”(Surah Al-Kahfi : 67).
“Wahai Musa, sesungguhnya ilmu
yang kumiliki ini ialah sebagian dari pada ilmu karunia dari Allah yang
diajarkan kepadaku tetapi tidak diajarkan kepadamu wahai Musa. Kamu juga
memiliki ilmu yang diajarkan kepadamu yang tidak kuketahuinya.” Nabi Musa
berkata, “Insya Allah tuan akan mendapati diriku sebagai seorang yang sabar dan
aku tidak akan menentang tuan dalam sesuatu urusan pun.” (Surah Al-Kahfi :
69). Dia (Khidir) selanjutnya mengingatkan, “Jika kamu mengikutiku, maka
janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu pun sehingga aku sendiri
menerangkannya kepadamu.” (Surah Al-Kahfi : 70).
Nabi Musa AS mengikuti Nabi Khidir AS dan terjadilah peristiwa yang
menguji diri Musa yang telah berjanji bahwa Nabi Musa AS tidak akan bertanya
mengenai sesuatu tindakan Nabi Khidir AS. Setiap tindakan Nabi
Khidir AS itu dianggap aneh dan membuat Nabi Musa AS terperanjat.
Peristiwa ketika Nabi Khidir AS menghancurkan perahu yang mereka
tumpangi. Nabi Musa AS bertanya kepada Nabi Khidir AS. Nabi Khidir AS
mengingatkan akan janji Nabi Musa AS, dan Nabi Musa AS meminta maaf karena
lalai mengingkari janji untuk tidak bertanya mengenai tindakan Nabi
Khidir AS. Ketika mereka tiba di suatu daratan, Nabi Khidir AS
membunuh bocah yang sedang bermain dengan teman sebayanya. Dan lagi-lagi Nabi
Musa AS bertanya kepada Nabi Khidir AS. Nabi Khidir AS kembali
mengingatkan janji Nabi Musa AS, dan beliau diberi kesempatan terakhir untuk
tidak bertanya-tanya terhadap yang dilakukan oleh Nabi Khidir AS, jika
masih bertanya lagi maka Nabi Musa AS harus rela untuk tidak mengikuti
perjalanan lagi bersama Nabi Khidir AS.
Mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai disuatu Perkampungan. Sikap
penduduk Kampung itu tidak bersahabat dan tidak mau menerima kehadiran mereka,
hal ini membuat Nabi Musa AS merasa kesal terhadap penduduk itu. Setelah
dikecewakan oleh penduduk, Nabi Khidir AS malah menyuruh Nabi Musa AS
untuk memperbaiki tembok suatu rumah yang rusak . Nabi Musa AS tidak
kuasa untuk bertanya terhadap sikap Nabi Khidir AS ini. Akhirnya Nabi
Khidir AS menegaskan pada Nabi Musa AS bahwa beliau tidak dapat menerima
Nabi Musa AS untuk menjadi muridnya dan Nabi Musa AS tidak diperkenankan untuk
terus melanjutkan bersama dengan Nabi Khidir AS.
Nabi Khidir AS menguraikan
mengapa beliau melakukan hal-hal yang membuat Nabi Musa AS bertanya. Adapun
perahu itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku
bertujuan merusakkan perahu itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang
merampas tiap-tiap perahu. Dan adapun bocah itu maka kedua orang tuanya adalah
orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang
tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan
mereka mengganti bagi mereka dengan anak/bocah lain yang lebih baik kesuciannya
dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya kepada ibu bapaknya. Adapun
dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di
bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah
seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada
kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu,
dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu
adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya”.
Hikmah dari kisah ini , Adab menuntut ilmu
AI Imam Fakhrur Razi mengatakan,” Ketahuilah ,
ayat ini (Qs al Kahfi: 66) menunjukan bahwa Nabi Musa memperhatikan adab
serta tata cara yang cukup banyak dan lunak ketika ingin belajar dari nabi
Khidir. Tata cara tersebut antara lain :
Nabi Musa merendah’kan dirinya dengan bertanya
secara halus , “ Apakah engkau mengizinku untuk mengikutimu? Padahal kita
tahu Nabi Musa adalah seorang nabi Ulul Azmi yang pernah bercakap-cakap dengan
Allah dan memimpin Bani Israil. Dia pula satu-satunya Nabi yang disebut namanya
dalam Al Qur’an sebanyak 300 Kali!
Kemudian nabi Musa mengatakan “ Supaya kamu
mengajarkan kepadaku ilmu yang benar..” ini membuktikan kepribadian luhur dan
sifat tawadlu untuk mengakui akan kebodohan dirinya di hadapan sang guru.
Dan beberapa adab lainnya
Hikmah kisah ini juga menyampaikan salah satu
etika dalam menuntut ilmu (al Qur’an) adalah bahwa ilmu harus dicari dari
sumbernya . Ia harus didatangi walau jauh tempatnya dan kesulitan dalam
menempuhnya. Dan Nabi Musa mencontohkan bagaimana ia walaupun seorang nabi pilihan
(ulul azmi) yang sekaligus pemimpin , siap menempuh suatu perjalanan untuk
mencari ilmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar