Selasa, 06 Januari 2015

Makna Ikhlas



 Makna Ikhlas dalam Hidup

Diterimannya ibadah seseorang bergantung pada dua hal pokok yaitu Ikhlas karena mengharap ridho Allah SWT dan benar sesuai dengan apa yang di contohkan nabi Muhammad SAW, bila salah satu dari dua unsur tersebut tidak terpenuhi maka ibadah kita akan tertolak karena itu ikhlas merupakan hal yang sangat penting dan menentukan diterima tidaknya amal ibadah seseorang sebagai mana Allah SWT jelaskan dalam Al-Qur’an suarat Al-Bayinah (98) ayat 5
وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Artinya :
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”.
Ikhlas adalah perkara yang mudah untuk diucapkan dan sulit untuk dilakukan karena merupakan amalan atau perbuatan hati yang tidak dapat diketahui secara kasat mata oleh siapapun kecuali oleh Allah SWT dan orang yang melakukannya yang bersih hatinya karenanya ketika ada orang yang mengagumi suatu perbuatan yang terlihat begitu baik dan mulia karena banyaknya kebaikan yang nampak jelas terlihat dilakukannya, harta yang dihabiskan untuk berbagi, lisan yang tidak berhenti bernasihat dengan kalimat-kalimat yang sangat fasih dan santun, tenaga serta waktu yang dihabiskan untuk menolong sesama namun siapa tahu maksud dan tujuan perbuatan yang ada dalam hati orang yang melakukannya.
Nabi bersabda :
 وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ صَخْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏:‏‏"‏ إِنَ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَامِكُمْ ، وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ‏"‏ ‏‏(‏رواه مسلم‏‏‏)‏‏
  Artinya : Dari Abu Hurairah, iaitu Abdur Rahman bin Shakhr r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: Sesungguhnya Allah Ta'ala itu tidak melihat kepada tubuh-tubuhmu, tidak pula kepada bentuk rupamu, tetapi Dia melihat kepada hati-hatimu dan amal-amal perbuatanmu sekalian. (HR. Muslim)
a. Pengertian Ikhlas
Ikhlas berasal dari kata kholasho yang mengandung arti bersih, murni,lurus, benar atau jujur yaitu suatu perbuatan ibadah yang dilakukan semata-mata untuk mendapatkan pahala dan keridhaan Allah SWT saja dengan tidak  mengharapkan apa-apa dari keduniawian dan tidak dicemari oleh tujuan duniawiyah seperti mengharapkan pujian atau sanjungan dari sesama, ikhlas juga dapat diperumpamakan seperti susu yang putih bersih nan segar yang tidak tercemari oleh kotoran dan darah walaupun berdekatan.
Allah SWT berfirman dalam Qs. An-nahl(16) ayat 66
وَإِنَّ لَكُمْ فِي الأنْعَامِ لَعِبْرَةً نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ
Artinya :“Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya”.(Qs.An-nahl(16) : 66)
b. Hakikat Ikhlas
Ikhlas pada hakikatnya menyerahkan segala urusannya  kepada Allah SWT mulai dari hal yang terkecil sampai yang terbesar  karena dilandasi suatu keyakinan yang kokoh bahwa Allah tidak mungkin akan menganiaya atau mendzolimi  hamba-hambanya sehingga apapun yang sudah digariskan  dan ditakdirkan Allah terjadi atau menimpah pada dirinya semua itu kebaikan semata buat dirinya, namun karena keterbatasan ilmu dan dorongan nafsu manusiawi yang menutupi hakikat kebaikan tersebutlah yang membuat seseorang kadang merasa tidak ikhlas dengan takdirnya.

Hadist nabi Muhammad SAW
وَعَنْ أَبِي يَحْيَى صُهَيْبِ بْنِ سِنَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ‏:‏ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ ‏"‏عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنٍ إِنَّ أَمْرُهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرُ، وَلَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنٍ ‏:‏ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ‏"‏ ‏(‏‏‏رواه مسلم‏)‏‏‏‏
Artinya :
Dari Abu Yahya, yaitu Shuhaib bin Sinan r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: "Amat mengherankan sekali keadaan orang mu'min itu, sesungguhnya semua keadaannya itu adalah merupakan kebaikan baginya dan kebaikan yang sedemikian itu tidak akan ada pada seseorang pun melainkan hanya untuk orang mu'min saja, yaitu apabila ia mendapatkan kelapangan hidup, ia pun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan baginya, sedang apabila ia ditimpa oleh kesukaran  yakni yang merupakan bencana  ia  bersabar dan hal ini pun adalah merupakan kebaikan baginya." (Riwayat Muslim)

c. Ciri-ciri orang Ikhlas
Ikhlas dan tidaknya amal perbuatan seseorang tidak dapat dinilai dari besar kecilnya, sedikit banyaknya harta yang dikeluarkan ,  sering tidaknya  perbuatan itu dilakukan, sopan atau tidaknya tutur kata yang diucapkan karena semua hal tersebut dapat saja direkayasa  dan dilakukan seseorang  karena strategi atau  mempunyai ambisi dan cita-cita duniawi, sedang orang yang ikhlas semua perbuatan yang dilakukannya tidak lebih dari sekedar menjalankan perintah Allah SWT dan hanya mengharapkan keridhoannya saja. Namun demikian ada ciri-ciri tertentu  yang dapat dikenali oleh orang yang melakukannya sebagai kendali diri dan hati nuraninya untuk dapat berbuat ikhlas atau tidak di antaranya :
1. Selalu Berhusnudzon kepada Allah SWT

            Khusnudzon berasal dari dua kata khusnu yang berarti baik dan dzon artinya prasangka, jadi khusnudzhon kepada Allah adalah berbaik sangka kepada Allah yaitu meyakini bahwa apa yang Allah SWT perintahkan, apa yang dilarang maupun  takdir yang menimpa terjadi semuanya adalah kebaikan yang mempunyai hikmah yang terkadang baru deketahuinya beberapa waktu kemudian dalam kehidupannya, karena pada semua peristiwa ada pelajaran yang dapat dipetik dan bentuk kasih sayang Allah, baik itu berupa teguran karena melakukan kesalahan agar tidak terus menerus berbuat kesalahan atau ujian yang membuat semakin yakin dan kokohnya iman didalam jiwa.
 
Orang yang ikhlas akan selalu berpandangan  bahwa apabila hidup dijalaninya dengan benar mengikuti ketentuan dan syariat-syariat Allah maka pasti akan menganggap bahwa semua yang Allah turunkan adalah kebaikan.

Firman Allah didalam Qs. An-nahl(16) : 30
وَقِيلَ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ قَالُوا خَيْرًا لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَلَدَارُ الآخِرَةِ خَيْرٌ وَلَنِعْمَ دَارُ الْمُتَّقِينَ
Artinya : “ Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: "Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?" Mereka menjawab: "(Allah telah menurunkan) kebaikan". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa”.
(Qs. An-nahl(16) : 30)

2. Tiada mengharap balasan kecuali dari Allah SWT

Balasan dari manusia baik itu berupa harta benda, jabatan maupun pujian bukanlah tujuan yang ingin diraih dari orang-orang yang ikhlas karena dalam pandangannya semua itu hanyalah sekedar kembangnya saja sedangkan buahnya adalah keridhoan Allah SWT
Qs.An-Nur(24) : 38
لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Artinya : “(Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas”.( Qs.An-Nur(24) : 38)

Mengharap balasan kebaikan dari manusia akan melelahkan dan bersiap untuk kecewa karena terkadang perbuatan baik yang kita lakukan pada seseorang belum tentu ia akan membalasnya dengan kebaikan juga, bahkan bisa jadi akan mendapat balasan yang buruk, untuk itu orang yang ikhlas jangankan balasan yang baik, ucapan terimakasih sekalipun tidak diharapkannya.  

Sayyidina 'Ali pun pernah berkata, orang yang ikhlas itu jangankan untuk mendapatkan pujian, diberikan ucapan terima kasih pun dia sama sekali tidak akan pernah mengharapkannya, karena setiap kita beramal hakikatnya kita itu sedang berinteraksi dengan Allah, oleh karenanya harapan yang ada akan senantiasa tertuju kepada keridhaan Allah semata. Firman Allah Al-Insan(76) : 9

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلا شُكُورًا
Artinya : “Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih”.( Qs. Al-Insan(76) : 9)




3. Tidak terpengaruh oleh pujian atau cercaan

Pujian orang, bisa membuat semangat untuk beramal lebih bergairah, hati terhibur bahkan bisa membuat orang menjadi bangga akan dirinya hingga melupakan tuhan yang telah mencurahkan nikmat kepadanya, sedangkan  cercaan atau cacimaki malah akan berakibat sebaliknya bisa membuat orang pesimis, menurun semangatnya, hati bersedih dan kecewa, kepercayaan pada diri sendiri akan berkurang dan minder, mengeluh dan meratapi nasib dan pada  puncaknya menyesali takdir dan menyalahkan Allah karena merasa keadilan Allah tidak berpihak kepadanya.

Orang yang ikhlas adalah orang yang tidak memiliki sikap mental seperti ini karena baginya pujian tidak lebih dari sekedar apresiasi orang atas karya baik yang dilakukannya, dan bila salah menyikapinya bisa jadi malah akan membuatnya binasa, karena itu terhadap pujian, akan dianggap sebagai suatu tanda bahwa ia harus lebih berhati-hati dalam berbuat karena tanpa diminta ada saja orang yang siap untuk memberi penilaian, sedangkan terhadap cercaan dianggapnya sebagai bentuk kasih sayang dari seseorang yang tidak rela melihat dirinya melakukan kesalahan walaupun dia yakin bahwa apa yang dilakukannya adalah benar.

Secara manusiawi hampir semua orang ingin dipuji dan tidak suka dicacimaki namun bila kita menyadari bahwa manusia adalah mahluk yang lemah dan mudah melakukan kesalahan maka pujian tidak selalu mendatangkan kebaikan dan cacian pun tidak selamanya mendatangkan keburukan.

Firman Allah dalam (Qs. Al-Baqarah(2): 216)

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

Artinya : “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. Qs. Al-Baqarah(2): 216

Orang yang ikhlas dia tidak akan pernah berubah sikapnya seandainya disaat dia berbuat sesuatu kebaikan ada yang memujinya, atau tidak ada yang memujinya bahkan dicacipun hatinya tetap tenang, karena ia yakin bahwa amalnya bukanlah untuk mendapatkan penilaian sesama yang mudah sekali berubah tetapi dia bulatkan seutuhnya hanya ingin mendapatkan penilaian yang sempurna dari Allah SWT, karena itu ketika ia melakukan kebaikan tidak menunggu-nunggu sampai ada orang yang melihatnya, pendek kata dalam situasi sendiri atau bersama orang lain akan tetap tampil apa adanya.

4. Senantiasa bersegera pada kebaikan

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat (Qs) Al-Baqoroh(2): 148)
وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَمَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Artinya : “Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (Qs. Al-Baqoroh(2): 148)

Rugi rasanya bila tidak ikut andil dalam kebaikan karena pada perinsipnya semua perbuatan baik yang dilakukan seseorang itu akan kembali kepada orang yang melakukannya, demikan pula perbuatan buruk walaupun sesaat terkesan menguntungkan namun pada hakikatnya keburukan tersebut akan kembali kepada orang yang melakukannya, baik itu kecil atau sedikit maupun besar sehingga ia tidak meremehkan dan Tidak pernah membedakan antara amal besar dan amal kecil.

Diriwayatkan bahwa Imam Ghazali pernah bermimpi, dan dalam mimpinya beliau mendapatkan kabar bahwa amalan yang besar yang pernah beliau lakukan diantaranya adalah disaat beliau melihat ada seekor lalat yang masuk kedalam tempat tintanya, lalu beliau angkat lalat tersebut dengan hati-hati lalu dibersihkannya dan sampai akhirnya lalat itupun bisa kembali terbang dengan sehat. Maka sekecil apapun sebuah amal apabila kita kerjakan dengan sempurna dan benar-benar tiada harapan yang muncul pada selain Allah, maka akan menjadi amal yang sangat besar dihadapan Allah SWT.
5. Dapat menjaga ketulusan hati saat berbuat Amal Kebaikan
Allah SWT memberi kebebasan kepada kita untuk melakukan kebaikan boleh dikerjakan dengan terang-terangan dan dapat juga dilakukang secara diam-diam sesuai dengan firmannya didalam Qs.Ar-ra’d (13) : 22
وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ
Artinya : “Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridaan Tuhannya, mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik)”.(Qs.Ar-ra’d (13) : 22)
Ayat diatas jelas sekali menunjukan bahwa bolehnya kita bersedekah secara terang-terangan untuk mencari keridhoaan Allah SWT bukan untuk mencari keridhoan mahluk atau mengharap pujian manusia yang penting hati terjaga dari maksud tersebut, selain itu dengan sedekah secara terang-terangan akan menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama dan menjauhkan orang dari prasangka buruk (syu udzhon) kepada dirinya, terlebih bila ia adalah seorang yang dipandang termasuk orang yang berharta, dengan demikian iapun telah menolong orang lain dari berbuat dosa karna prasangkanya.
Namun bagi yang berpandangan bahwa ia tidak dapat menjaga hati bila ada orang yang memuji terhadap kebaikan yang dilakukannya, maka lebih aman baginya untuk memilih jalan sembunyi-sembunyi dengan  harus tetap pandai-pandai menjaga lidahnya untuk tidak menceritakan amal baiknya kepada orang lain, karena akan percuma saja menyembunyikan mengerjakan kebaikan manakala disaat yang lain ada keinginan untuk menceritakannya.      
Diantara dua cara tersebut masing-masing memiliki keutamaan baik yang terang-terangan maupun yang secara sembunyi namun dalam pandangan Allah SWT ternyata yang sembunyi-sembunyi lebih baik nilainnya sebagaimana terdapat dalam firmannya Qs. Al-Baqarah(2):271)
إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Artinya “Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al-Baqarah(2) : 271)

6. Tidak diskriminasi dalam berbuat kebaiakan
Berbuat baik kepada orang yang  baik kepada kita adalah hal yang sudah semestinya dan berbuat baik kepada orang  yang dikenal juga merupakan hal yang wajar, namun untuk berbuat baik pada semua manusia yang dikenalinya  atau yang tidak dikenalnya atau kepada orang yang memusuhinya disaat orang tersebut membutuhkan pertolongan dan bantuannya tidak semua orang mampu berbuat seperti itu,
Padahal Allah SWT mencontohkan kepada kita untuk berbuat baik kepada semua mahluk ciptaannya baik yang beriman yang taat padanya,  maupun kepada yang  kafir yang membangkang  kepadanya, semua dicukupi keperluannya, diberinya rizki, kesehatan, harta dan berbagai kenikmatan dan kesenagan hidup di dunia, dan Allah pun memerintahkan kepada kita untuk berbuat baik kepada siapa saja tanpa memandang status, suku, bahasa, bahkan agama sekalipun sebagaimana firmannya didalam Al-Qur’an surat Al-Hujurot(49) ayat 13
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.(Qs. Al-Hujurot(49) : 13)
Orang yang paling mulia adalah orang yang paling bertaqwa yaitu orang yang selalu berbuat baik kepada siapa saja bukan hanya kepada sesama manusia tetapi terhadap binatang, tumbuhan dan alam lingkunganpun akan berlaku yang sama sebagai perwujudan ketaatan kepada sang pencipta Allah SWT.
7. Dikerjakan dengan senang hati dan atas kesadaran sendiri

Pekerjaan yang berat akan terasa berkurang beratnya, pekerjaan sulit akan dapat diatasi dan ditemukan solusinya,  bila semua dilaksanakan dengan hati ikhlas yang riyang dan atas kesadaran atau kemauan sendiri tanpa ada paksaan atau  tekanan dari siapapun, namun sebaliknya pekerjaan yang mudah dan spele akan terasa begitu sulit dikerjakaan bila tanpa adanya dorongan kesadaran yang timbul dari dalam hatinya.

Contoh yang sangat sederhana bisa kita lihat pada Seorang anak SD yang tinggal dipedalaman berjalan kaki beberapa kilo meter melalui jalan setapak yang sulit terlebih bila musim hujan jalan yang dilaluinya becek dan licin,  naik turun bukit, melintasi hutan ditambah lagi harus menyebrang sungai yang lumayan deras airnya, ternyata tidak menghalangi niatnya untuk berangkat menuju sekolah, sekalipun harus pagi-pagi dan perut belum terisi makanan, rutinitas seperti ini mereka lakukan dengan senang bahkan kadang diselingi canda tawa bersama teman seperjalanan, sementara dikota seorang anak SD yang bangunan sekolahnya terlihat dari rumahnya kadang-kadang tidak jadi berangkat ke sekolah bila tidak diantar oleh orang tuanya atau bila uang jajannya kurang.
      
Orang yang ikhlas adalah orang yang bergembira berbuat kebaikan karena adanya kesadaran yang tumbuh dari dalam hatinnya bahwa tidak ada alasan yang tepat untuk melakukan suatu kebaikan dengan terpaksa atau dengan bersedih karena semua yang ditanam akan memberi buah, dan buah yang akan dipetik bergantung baik tidaknya tanaman yang ditanam, pertanyaannya, apakah layak orang yang ingin memetik hasil buah yang baik, manis dan segar bersedih?.  Allah SWT berfirman :
يَسْتَبْشِرُونَ بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ وَأَنَّ اللَّهَ لا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُؤْمِنِينَ
Artinya : “Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman”.            (Qs. Ali Imron(3) : 171)
d. Prilaku yang dapat merusak Ikhlas
Iblis telah bersumpah kepada Allah bahwa dia akan menyesatkan manusia dari jalan yang lurus dengan berbagai cara dan muslihat, kepada orang yang mau melakukan kebaikan ditanamkan rasa malas sehingga tidak jadi melakukannya, kepada orang yang sedang melakukan ditamakan rasa tergesa-gesa sehingga tidak sempurna hasilnya , dan kepada orang yang pandai lagi rajin serta teliti ditanamkan rasa benar sendiri sehingga timbul ujub dan meremehkan orang lain demikan seterusnnya.
Firman Allah SWT dalam Qs. Al-A’rof(7) : 16-17
قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ
ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
Artinya :
17). “Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,
18). kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Qs. Al-A’rof(7) : 16-17)
Diantara tipu daya syaitan yang dapat menghalangi kita untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik dengan ikhlas adalah sebagai berikut 
a. Riya dan Sum’ah
Riya berasal dari akar kata ru'yah yang artinya diperlihatkan yaitu jika seseorang menampakkan atau memperlihatkan ibadah bukan bukan mengharapkan pahala  dan keridhaan Allah SWT melainkan agar dilihat oleh manusia dengan harapan mendapatkan pujiannya, karena itu mereka yang berbuat riya dikatakan sebagai para pendusta agama. makna tersebut sejalan dengan firman Allah dalam Qs.Al-Ma’un(107) : 1-7),
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ (١) فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ (٢) وَلا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (٣) فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (٤) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاتِهِمْ سَاهُونَ (٥)الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (٦) وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ (٧)

Artinya : “1) Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?, 2). Itulah orang yang menghardik anak yatim, 3). dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. 4). Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, 5). (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, 6). orang-orang yang berbuat ria. 7). dan enggan (menolong dengan) barang berguna.     Qs.Al-Ma’un(107) : 1-7),
Sedangkan kata sum'ah berasal dari kata samma'a (memperdengarkan) yaitu orang yang berbuat amal soleh dan tidak diketahui oleh orang lain kemudian dia menceritakan perbuatannya tersebut dengan harapan agar orang yang mendengarnya memberi penghargaan atau pujian padanya.
 Izzuddin bin Abdussalam membedakan antara riya dan sum'ah dengan definisi, "Riya adalah sikap seseorang yang beramal bukan untuk Allah. sedangkan Sum'ah adalah sikap seseorang yang menyembunyikan amalnya untuk Allah namun ia bicarakan hal tersebut kepada manusia (Fathul Baari)". dalam hal ini menurutnya semua riya adalah tercela akan tetapi sum'ah adalah amal terpuji jika ia melakukannya karena Allah dan untuk memperoleh ridho-Nya, dan tercela jika dia membicarakan amalnya dihadapan manusia. ungkapan ini sesuai dengan firman Allah,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالأذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
Artinya : “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena ria kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”(Qs. Al Baqarah(2) : 264)
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda "'maukah kamu aku beritau tentang sesuatu yang menurutku lebih aku khawatirkan terhadap kamu daripada Al Masih Ad Dajjal' para sahabat menjawab 'baiklah wahai Rasulullah'. beliau pun bersabda 'syirik tersembunyi yaitu ketika seseorang berdiri sholat, dia per indah sholatnya karena tau ada orang lain yang memperhatikan'" (HR. Imam Ahmad)
Dan hadist yang  lain Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda "barangsiapa yang berlaku sum'ah, maka akan diperlakukan dengan sum'ah oleh Allah (diumumkan aib-aibnya di akhirat). dan barangsiapa yang berlaku riya, maka akan dibalas oleh Allah dengan riya (diperlihatkan pahala amalnya, namun tidak diberi pahala kepadanya)" (HR. Al Bukhari)
Juga dalam riwayat lainnya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda "'sesungguhnya yang paling aku takuti atas kalian adalah syirik kecil' para sahabat lalu bertanya 'apakah yang dimaksud dengan syirik kecil itu wahai Rasulullah ?' beliaupun menjawab 'riya…'"(HR.Imam Ahmad)
b. Nifaq
Nifaq berasal dari kata naafiqaa. Nifaq secara bahasa (etimologi) berarti salah satu lubang tempat keluarnya yarbu’ (hewan sejenis tikus) dari sarangnya, di mana jika ia dicari dari lobang yang satu, maka ia akan keluar dari lobang yang lain. Dikatakan pula, ia berasal dari kata nafaq yaitu lobang tempat bersembunyi. Sedangkan Nifaq menurut istilah syara’ (terminologi) berarti menampakkan keislaman dan kebaikan tetapi menyembunyikan kekufuran dan kejahatan. Dinamakan demikian karena dia masuk pada syari’at dari satu pintu (kebenaran) dan keluar dari pintu yang lain (kesesatan). Karena perbuatan menereka yang amat buruk  itu, Allah memperingatkan dengan firmanNya:
الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
artinya : “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.”   (Q.s  At-Taubah (9) : 67)
Allah menjadikan hukuman di akhirat orang-orang munafiq lebih jelek dan rendah  dari orang-orang kafir. Allah berfirman:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا
Artinya : “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari Neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (Qs.An-Nisaa’(4) : 145)
Disebabkan mereka melakukan tipu daya kepada Allah SWT, Allah Azza wa Jalla berfirman:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلا قَلِيلا
Artinya : “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (Qs.An-Nisaa’(4): 142)

Nifaq ada dua jenis: Nifaq I’tiqadi dan Nifaq ‘Amali.
1.      Nifaq I’tiqadi (Keyakinan)
Yaitu nifaq besar, di mana pelakunya menampakkan keislaman, tetapi menyembunyikan kekufuran. Jenis nifaq ini menjadikan pelakunya keluar dari agama dan dia berada di dalam kerak Neraka. Allah menyifati para pelaku nifaq ini dengan berbagai kejahatan, seperti kekufuran, ketiadaan iman, mengolok-olok dan mencaci agama dan pemeluknya serta kecenderungan kepada musuh-musuh untuk bergabung dengan mereka dalam memusuhi Islam. Orang-orang munafiq jenis ini senantiasa ada pada setiap zaman.
Lebih-lebih ketika tampak kekuatan Islam dan mereka tidak mampu membendungnya secara lahiriyah. Dalam keadaan seperti itu, mereka masuk ke dalam agama Islam untuk melakukan tipu daya terhadap agama dan pemeluknya secara sembunyi-sembunyi, juga agar mereka bisa hidup bersama ummat Islam dan merasa tenang dalam hal jiwa dan harta benda mereka. Karena itu, seorang munafiq menampakkan keimanannya kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya dan Hari Akhir, tetapi dalam batinnya mereka berlepas diri dari semua itu dan mendustakannya.
Nifaq jenis ini ada empat macam, yaitu: 1). Mendustakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam atau mendustakan sebagian dari apa yang beliau bawa, 2). Membenci Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam atau membenci sebagian apa yang beliau bawa, 3).Merasa gembira dengan kemunduran agama Islam, dan 4). Tidak senang dengan kemenangan Islam.
2.      Nifaq ‘Amali (Perbuatan).
Nifaq ‘amali Yaitu melakukan sesuatu yang merupakan perbuatan orang-orang munafiq, tetapi masih tetap ada iman di dalam hati. Nifaq jenis ini tidak mengeluarkannya dari agama, tetapi merupakan wasilah (perantara) kepada yang demikian. Pelakunya berada dalam iman dan nifaq. Lalu jika perbuatan nifaqnya banyak, maka akan bisa menjadi sebab terjerumusnya dia ke dalam nifaq sesungguhnya, berdasarkanhadist dari Ibnu Umar Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ كَانَ مُنَافِقاً خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا، إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ
Artinya : “Ada empat hal yang jika terdapat pada diri seseorang, maka ia menjadi seorang munafiq sejati, dan jika terdapat padanya salah satu dari sifat tersebut, maka ia memiliki satu karakter kemunafikan hingga ia meninggalkannya: 1) jika dipercaya ia berkhianat, 2) jika berbicara ia berdusta, 3) jika berjanji ia memungkiri, dan 4) jika bertengkar ia melewati batas.”
(Hr. Bukhori dan Muslim)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar