Makna Ikhlas dalam Hidup
Diterimannya
ibadah seseorang bergantung pada dua hal pokok yaitu Ikhlas karena mengharap
ridho Allah SWT dan benar sesuai dengan apa yang di contohkan nabi Muhammad
SAW, bila salah satu dari dua unsur tersebut tidak terpenuhi maka ibadah kita
akan tertolak karena itu ikhlas merupakan hal yang sangat penting dan
menentukan diterima tidaknya amal ibadah seseorang sebagai mana Allah SWT
jelaskan dalam Al-Qur’an suarat Al-Bayinah (98) ayat 5
وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا
اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا
الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Artinya :
“Padahal
mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan
kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan
salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”.
Ikhlas
adalah perkara yang mudah untuk diucapkan dan sulit untuk dilakukan karena
merupakan amalan atau perbuatan hati yang tidak dapat diketahui secara kasat
mata oleh siapapun kecuali oleh Allah SWT dan orang yang melakukannya yang
bersih hatinya karenanya ketika ada orang yang mengagumi suatu perbuatan yang
terlihat begitu baik dan mulia karena banyaknya kebaikan yang nampak jelas
terlihat dilakukannya, harta yang dihabiskan untuk berbagi, lisan yang tidak
berhenti bernasihat dengan kalimat-kalimat yang sangat fasih dan santun, tenaga
serta waktu yang dihabiskan untuk menolong sesama namun siapa tahu maksud dan
tujuan perbuatan yang ada dalam hati orang yang melakukannya.
Nabi
bersabda :
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ صَخْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَ
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:" إِنَ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَامِكُمْ
، وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ" (رواه
مسلم)
Artinya : Dari Abu Hurairah, iaitu Abdur Rahman bin Shakhr r.a.,
katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: ‘Sesungguhnya Allah Ta'ala itu tidak melihat kepada
tubuh-tubuhmu, tidak pula kepada bentuk rupamu, tetapi Dia melihat kepada
hati-hatimu dan amal-amal perbuatanmu sekalian.’ (HR. Muslim)
a. Pengertian Ikhlas
Ikhlas
berasal dari kata kholasho yang mengandung arti bersih, murni,lurus, benar atau
jujur yaitu suatu perbuatan ibadah yang dilakukan semata-mata untuk mendapatkan
pahala dan keridhaan Allah SWT saja dengan tidak mengharapkan apa-apa dari keduniawian dan
tidak dicemari oleh tujuan duniawiyah seperti mengharapkan pujian atau
sanjungan dari sesama, ikhlas juga dapat diperumpamakan seperti susu yang putih
bersih nan segar yang tidak tercemari oleh kotoran dan darah walaupun
berdekatan.
Allah SWT berfirman dalam Qs. An-nahl(16) ayat 66
وَإِنَّ لَكُمْ فِي الأنْعَامِ لَعِبْرَةً نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي
بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ
Artinya
:“Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi
kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa)
susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang
yang meminumnya”.(Qs.An-nahl(16)
: 66)
b. Hakikat Ikhlas
Ikhlas
pada hakikatnya menyerahkan segala urusannya
kepada Allah SWT mulai dari hal yang terkecil sampai yang terbesar karena dilandasi suatu keyakinan yang kokoh
bahwa Allah tidak mungkin akan menganiaya atau mendzolimi hamba-hambanya sehingga apapun yang sudah
digariskan dan ditakdirkan Allah terjadi
atau menimpah pada dirinya semua itu kebaikan semata buat dirinya, namun karena
keterbatasan ilmu dan dorongan nafsu manusiawi yang menutupi hakikat kebaikan
tersebutlah yang membuat seseorang kadang merasa tidak ikhlas dengan takdirnya.
Hadist nabi Muhammad SAW
وَعَنْ
أَبِي يَحْيَى صُهَيْبِ بْنِ سِنَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ
رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ "عَجَبًا لِأَمْرِ
الْمُؤْمِنٍ إِنَّ أَمْرُهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرُ، وَلَيْسَ
ذَلِكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنٍ : إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ
فَكَانَ خَيْراً لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ
خَيْراً لَهُ" (رواه مسلم)
Artinya :
Dari Abu Yahya, yaitu Shuhaib bin Sinan r.a., katanya: Rasulullah s.a.w.
bersabda: "Amat mengherankan sekali keadaan orang mu'min itu, sesungguhnya
semua keadaannya itu adalah merupakan kebaikan baginya dan kebaikan yang
sedemikian itu tidak akan ada pada seseorang pun melainkan hanya untuk orang
mu'min saja, yaitu apabila ia mendapatkan kelapangan hidup, ia pun bersyukur,
maka hal itu adalah kebaikan baginya, sedang apabila ia ditimpa oleh
kesukaran yakni yang merupakan
bencana ia bersabar dan hal ini pun adalah merupakan
kebaikan baginya." (Riwayat Muslim)
c. Ciri-ciri orang Ikhlas
Ikhlas dan
tidaknya amal perbuatan seseorang tidak dapat dinilai dari besar kecilnya,
sedikit banyaknya harta yang dikeluarkan ,
sering tidaknya perbuatan itu
dilakukan, sopan atau tidaknya tutur kata yang diucapkan karena semua hal tersebut
dapat saja direkayasa dan dilakukan
seseorang karena strategi atau mempunyai ambisi dan cita-cita duniawi, sedang
orang yang ikhlas semua perbuatan yang dilakukannya tidak lebih dari sekedar
menjalankan perintah Allah SWT dan hanya mengharapkan keridhoannya saja. Namun
demikian ada ciri-ciri tertentu yang
dapat dikenali oleh orang yang melakukannya sebagai kendali diri dan hati
nuraninya untuk dapat berbuat ikhlas atau tidak di antaranya :
1. Selalu Berhusnudzon kepada Allah SWT
Khusnudzon berasal dari dua kata
khusnu yang berarti baik dan dzon artinya prasangka, jadi khusnudzhon kepada
Allah adalah berbaik sangka kepada Allah yaitu meyakini bahwa apa yang Allah
SWT perintahkan, apa yang dilarang maupun
takdir yang menimpa terjadi semuanya adalah kebaikan yang mempunyai
hikmah yang terkadang baru deketahuinya beberapa waktu kemudian dalam
kehidupannya, karena pada semua peristiwa ada pelajaran yang dapat dipetik dan
bentuk kasih sayang Allah, baik itu berupa teguran karena melakukan kesalahan
agar tidak terus menerus berbuat kesalahan atau ujian yang membuat semakin yakin
dan kokohnya iman didalam jiwa.
Orang
yang ikhlas akan selalu berpandangan
bahwa apabila hidup dijalaninya dengan benar mengikuti ketentuan dan
syariat-syariat Allah maka pasti akan menganggap bahwa semua yang Allah
turunkan adalah kebaikan.
Firman Allah didalam Qs.
An-nahl(16) : 30
وَقِيلَ لِلَّذِينَ
اتَّقَوْا مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ قَالُوا خَيْرًا لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي
هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَلَدَارُ الآخِرَةِ خَيْرٌ وَلَنِعْمَ دَارُ
الْمُتَّقِينَ
Artinya : “ Dan
dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: "Apakah yang telah diturunkan
oleh Tuhanmu?" Mereka menjawab: "(Allah telah menurunkan)
kebaikan". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat
(pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan
itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa”.
(Qs. An-nahl(16) : 30)
2. Tiada
mengharap balasan kecuali dari Allah SWT
Balasan
dari manusia baik itu berupa harta benda, jabatan maupun pujian bukanlah tujuan
yang ingin diraih dari orang-orang yang ikhlas karena dalam pandangannya semua
itu hanyalah sekedar kembangnya saja sedangkan buahnya adalah keridhoan Allah
SWT
Qs.An-Nur(24)
: 38
لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ
أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Artinya : “(Mereka
mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka
(dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan
supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki
kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas”.( Qs.An-Nur(24) : 38)
Mengharap
balasan kebaikan dari manusia akan melelahkan dan bersiap untuk kecewa karena
terkadang perbuatan baik yang kita lakukan pada seseorang belum tentu ia akan
membalasnya dengan kebaikan juga, bahkan bisa jadi akan mendapat balasan yang
buruk, untuk itu orang yang ikhlas jangankan balasan yang baik, ucapan
terimakasih sekalipun tidak diharapkannya.
Sayyidina
'Ali pun pernah berkata, orang yang ikhlas itu jangankan untuk mendapatkan
pujian, diberikan ucapan terima kasih pun dia sama sekali tidak akan pernah
mengharapkannya, karena setiap kita beramal hakikatnya kita itu sedang
berinteraksi dengan Allah, oleh karenanya harapan yang ada akan senantiasa
tertuju kepada keridhaan Allah semata. Firman Allah Al-Insan(76) : 9
إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً
وَلا شُكُورًا
Artinya : “Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah
untuk mengharapkan keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan
tidak pula (ucapan) terima kasih”.(
Qs. Al-Insan(76) : 9)
3. Tidak
terpengaruh oleh pujian atau cercaan
Pujian
orang, bisa membuat semangat untuk beramal lebih bergairah, hati terhibur
bahkan bisa membuat orang menjadi bangga akan dirinya hingga melupakan tuhan
yang telah mencurahkan nikmat kepadanya, sedangkan cercaan atau cacimaki malah akan berakibat
sebaliknya bisa membuat orang pesimis, menurun semangatnya, hati bersedih dan
kecewa, kepercayaan pada diri sendiri akan berkurang dan minder, mengeluh dan
meratapi nasib dan pada puncaknya
menyesali takdir dan menyalahkan Allah karena merasa keadilan Allah tidak
berpihak kepadanya.
Orang
yang ikhlas adalah orang yang tidak memiliki sikap mental seperti ini karena
baginya pujian tidak lebih dari sekedar apresiasi orang atas karya baik yang
dilakukannya, dan bila salah menyikapinya bisa jadi malah akan membuatnya
binasa, karena itu terhadap pujian, akan dianggap sebagai suatu tanda bahwa ia
harus lebih berhati-hati dalam berbuat karena tanpa diminta ada saja orang yang
siap untuk memberi penilaian, sedangkan terhadap cercaan dianggapnya sebagai
bentuk kasih sayang dari seseorang yang tidak rela melihat dirinya melakukan
kesalahan walaupun dia yakin bahwa apa yang dilakukannya adalah benar.
Secara
manusiawi hampir semua orang ingin dipuji dan tidak suka dicacimaki namun bila
kita menyadari bahwa manusia adalah mahluk yang lemah dan mudah melakukan
kesalahan maka pujian tidak selalu mendatangkan kebaikan dan cacian pun tidak
selamanya mendatangkan keburukan.
Firman
Allah dalam (Qs. Al-Baqarah(2): 216)
كُتِبَ عَلَيْكُمُ
الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ
لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ
وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ
Artinya
: “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang
itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal
ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia
amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. Qs.
Al-Baqarah(2): 216
Orang yang ikhlas dia tidak akan
pernah berubah sikapnya seandainya disaat dia berbuat sesuatu kebaikan ada yang
memujinya, atau tidak ada yang memujinya bahkan dicacipun hatinya tetap tenang,
karena ia yakin bahwa amalnya bukanlah untuk mendapatkan penilaian sesama yang
mudah sekali berubah tetapi dia bulatkan seutuhnya hanya ingin mendapatkan
penilaian yang sempurna dari Allah SWT, karena itu ketika ia melakukan kebaikan
tidak menunggu-nunggu sampai ada orang yang melihatnya, pendek kata dalam
situasi sendiri atau bersama orang lain akan tetap tampil apa adanya.
4. Senantiasa bersegera pada
kebaikan
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat (Qs)
Al-Baqoroh(2): 148)
وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
أَيْنَمَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ
شَيْءٍ قَدِيرٌ
Artinya : “Dan bagi
tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka
berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti
Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah
Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
(Qs. Al-Baqoroh(2): 148)
Rugi rasanya bila tidak ikut andil dalam kebaikan
karena pada perinsipnya semua perbuatan baik yang dilakukan seseorang itu akan
kembali kepada orang yang melakukannya, demikan pula perbuatan buruk walaupun
sesaat terkesan menguntungkan namun pada hakikatnya keburukan tersebut akan
kembali kepada orang yang melakukannya, baik itu kecil atau sedikit maupun
besar sehingga ia tidak meremehkan dan Tidak pernah membedakan antara amal
besar dan amal kecil.
Diriwayatkan bahwa Imam Ghazali
pernah bermimpi, dan dalam mimpinya beliau mendapatkan kabar bahwa amalan yang
besar yang pernah beliau lakukan diantaranya adalah disaat beliau melihat ada
seekor lalat yang masuk kedalam tempat tintanya, lalu beliau angkat lalat
tersebut dengan hati-hati lalu dibersihkannya dan sampai akhirnya lalat itupun
bisa kembali terbang dengan sehat. Maka sekecil apapun sebuah amal apabila kita
kerjakan dengan sempurna dan benar-benar tiada harapan yang muncul pada selain
Allah, maka akan menjadi amal yang sangat besar dihadapan Allah SWT.
5. Dapat menjaga ketulusan
hati saat berbuat Amal Kebaikan
Allah
SWT memberi kebebasan kepada kita untuk melakukan kebaikan boleh dikerjakan
dengan terang-terangan dan dapat juga dilakukang secara diam-diam sesuai dengan
firmannya didalam Qs.Ar-ra’d (13) : 22
وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا
الصَّلاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً وَيَدْرَءُونَ
بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ
Artinya :
“Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridaan Tuhannya, mendirikan salat,
dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara
sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan;
orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik)”.(Qs.Ar-ra’d (13) : 22)
Ayat diatas jelas sekali menunjukan bahwa bolehnya kita
bersedekah secara terang-terangan untuk mencari keridhoaan Allah SWT bukan
untuk mencari keridhoan mahluk atau mengharap pujian manusia yang penting hati
terjaga dari maksud tersebut, selain itu dengan sedekah secara terang-terangan
akan menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama dan menjauhkan
orang dari prasangka buruk (syu udzhon) kepada dirinya, terlebih bila ia adalah
seorang yang dipandang termasuk orang yang berharta, dengan demikian iapun
telah menolong orang lain dari berbuat dosa karna prasangkanya.
Namun bagi yang berpandangan bahwa ia tidak dapat menjaga
hati bila ada orang yang memuji terhadap kebaikan yang dilakukannya, maka lebih
aman baginya untuk memilih jalan sembunyi-sembunyi dengan harus tetap pandai-pandai menjaga lidahnya
untuk tidak menceritakan amal baiknya kepada orang lain, karena akan percuma
saja menyembunyikan mengerjakan kebaikan manakala disaat yang lain ada keinginan
untuk menceritakannya.
Diantara
dua cara tersebut masing-masing memiliki keutamaan baik yang terang-terangan
maupun yang secara sembunyi namun dalam pandangan Allah SWT ternyata yang
sembunyi-sembunyi lebih baik nilainnya sebagaimana terdapat dalam firmannya Qs.
Al-Baqarah(2):271)
إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا
وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ
سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Artinya “Jika kamu
menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu
menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka
menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu
sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al-Baqarah(2) :
271)
6. Tidak diskriminasi
dalam berbuat kebaiakan
Berbuat baik kepada orang yang baik kepada kita adalah hal yang sudah
semestinya dan berbuat baik kepada orang
yang dikenal juga merupakan hal yang wajar, namun untuk berbuat baik
pada semua manusia yang dikenalinya atau
yang tidak dikenalnya atau kepada orang yang memusuhinya disaat orang tersebut
membutuhkan pertolongan dan bantuannya tidak semua orang mampu berbuat seperti
itu,
Padahal Allah SWT mencontohkan kepada kita untuk berbuat
baik kepada semua mahluk ciptaannya baik yang beriman yang taat padanya, maupun kepada yang kafir yang membangkang kepadanya, semua dicukupi keperluannya,
diberinya rizki, kesehatan, harta dan berbagai kenikmatan dan kesenagan hidup
di dunia, dan Allah pun memerintahkan kepada kita untuk berbuat baik kepada
siapa saja tanpa memandang status, suku, bahasa, bahkan agama sekalipun
sebagaimana firmannya didalam Al-Qur’an surat Al-Hujurot(49) ayat 13
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى
وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ
اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya : “Hai manusia, sesungguhnya Kami
menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan
kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya
orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling
bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Mengenal”.(Qs.
Al-Hujurot(49) : 13)
Orang yang paling mulia adalah orang yang paling bertaqwa
yaitu orang yang selalu berbuat baik kepada siapa saja bukan hanya kepada
sesama manusia tetapi terhadap binatang, tumbuhan dan alam lingkunganpun akan
berlaku yang sama sebagai perwujudan ketaatan kepada sang pencipta Allah SWT.
7. Dikerjakan
dengan senang hati dan atas kesadaran sendiri
Pekerjaan
yang berat akan terasa berkurang beratnya, pekerjaan sulit akan dapat diatasi
dan ditemukan solusinya, bila semua
dilaksanakan dengan hati ikhlas yang riyang dan atas kesadaran atau kemauan
sendiri tanpa ada paksaan atau tekanan
dari siapapun, namun sebaliknya pekerjaan yang mudah dan spele akan terasa
begitu sulit dikerjakaan bila tanpa adanya dorongan kesadaran yang timbul dari
dalam hatinya.
Contoh
yang sangat sederhana bisa kita lihat pada Seorang anak SD yang tinggal
dipedalaman berjalan kaki beberapa kilo meter melalui jalan setapak yang sulit
terlebih bila musim hujan jalan yang dilaluinya becek dan licin, naik turun bukit, melintasi hutan ditambah lagi
harus menyebrang sungai yang lumayan deras airnya, ternyata tidak menghalangi
niatnya untuk berangkat menuju sekolah, sekalipun harus pagi-pagi dan perut
belum terisi makanan, rutinitas seperti ini mereka lakukan dengan senang bahkan
kadang diselingi canda tawa bersama teman seperjalanan, sementara dikota
seorang anak SD yang bangunan sekolahnya terlihat dari rumahnya kadang-kadang
tidak jadi berangkat ke sekolah bila tidak diantar oleh orang tuanya atau bila
uang jajannya kurang.
Orang
yang ikhlas adalah orang yang bergembira berbuat kebaikan karena adanya
kesadaran yang tumbuh dari dalam hatinnya bahwa tidak ada alasan yang tepat
untuk melakukan suatu kebaikan dengan terpaksa atau dengan bersedih karena
semua yang ditanam akan memberi buah, dan buah yang akan dipetik bergantung
baik tidaknya tanaman yang ditanam, pertanyaannya, apakah layak orang yang
ingin memetik hasil buah yang baik, manis dan segar bersedih?. Allah SWT berfirman :
يَسْتَبْشِرُونَ
بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ وَأَنَّ اللَّهَ لا يُضِيعُ أَجْرَ
الْمُؤْمِنِينَ
Artinya : “Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang
besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang
beriman”. (Qs. Ali Imron(3) :
171)
d. Prilaku yang dapat merusak Ikhlas
Iblis telah
bersumpah kepada Allah bahwa dia akan menyesatkan manusia dari jalan yang lurus
dengan berbagai cara dan muslihat, kepada orang yang mau melakukan kebaikan
ditanamkan rasa malas sehingga tidak jadi melakukannya, kepada orang yang sedang
melakukan ditamakan rasa tergesa-gesa sehingga tidak sempurna hasilnya , dan
kepada orang yang pandai lagi rajin serta teliti ditanamkan rasa benar sendiri
sehingga timbul ujub dan meremehkan orang lain demikan seterusnnya.
Firman Allah SWT dalam Qs. Al-A’rof(7)
: 16-17
قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ
الْمُسْتَقِيمَ
ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ
وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
Artinya :
17). “Iblis menjawab:
"Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan
(menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,
18). kemudian saya
akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari
kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur
(taat).”
(Qs. Al-A’rof(7) : 16-17)
Diantara tipu daya
syaitan yang dapat menghalangi kita untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik
dengan ikhlas adalah sebagai berikut
a.
Riya dan Sum’ah
Riya
berasal dari akar kata ru'yah yang artinya diperlihatkan yaitu jika seseorang
menampakkan atau memperlihatkan ibadah bukan bukan mengharapkan pahala dan keridhaan Allah SWT melainkan agar
dilihat oleh manusia dengan harapan mendapatkan pujiannya, karena itu mereka
yang berbuat riya dikatakan sebagai para pendusta agama. makna tersebut sejalan
dengan firman Allah dalam Qs.Al-Ma’un(107) : 1-7),
أَرَأَيْتَ الَّذِي
يُكَذِّبُ بِالدِّينِ (١) فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ (٢) وَلا يَحُضُّ
عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (٣) فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (٤) الَّذِينَ هُمْ عَنْ
صَلاتِهِمْ سَاهُونَ (٥)الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (٦) وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ
(٧)
Artinya : “1) Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?,
2). Itulah orang yang menghardik anak yatim, 3). dan tidak menganjurkan memberi
makan orang miskin. 4). Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, 5).
(yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, 6). orang-orang yang berbuat ria.
7). dan enggan (menolong dengan) barang berguna. Qs.Al-Ma’un(107) : 1-7),
Sedangkan kata sum'ah
berasal dari kata samma'a (memperdengarkan) yaitu orang yang berbuat amal soleh
dan tidak diketahui oleh orang lain kemudian dia menceritakan perbuatannya
tersebut dengan harapan agar orang yang mendengarnya memberi penghargaan atau
pujian padanya.
Izzuddin bin
Abdussalam membedakan antara riya dan sum'ah dengan definisi, "Riya adalah
sikap seseorang yang beramal bukan untuk Allah. sedangkan Sum'ah adalah sikap
seseorang yang menyembunyikan amalnya untuk Allah namun ia bicarakan hal
tersebut kepada manusia (Fathul Baari)". dalam hal ini menurutnya semua
riya adalah tercela akan tetapi sum'ah adalah amal terpuji jika ia melakukannya
karena Allah dan untuk memperoleh ridho-Nya, dan tercela jika dia membicarakan
amalnya dihadapan manusia. ungkapan ini sesuai dengan firman Allah,
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالأذَى
كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ
الآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ
فَتَرَكَهُ صَلْدًا لا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لا
يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
Artinya : “Hai
orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan
menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan
hartanya karena ria kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari
kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada
tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak
bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan;
dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”(Qs. Al Baqarah(2) : 264)
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam
bersabda "'maukah kamu aku beritau tentang sesuatu yang menurutku lebih
aku khawatirkan terhadap kamu daripada Al Masih Ad Dajjal' para sahabat
menjawab 'baiklah wahai Rasulullah'. beliau pun bersabda 'syirik tersembunyi
yaitu ketika seseorang berdiri sholat, dia per indah sholatnya karena tau ada
orang lain yang memperhatikan'" (HR. Imam Ahmad)
Dan hadist yang lain Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam
bersabda "barangsiapa yang berlaku sum'ah, maka akan diperlakukan dengan
sum'ah oleh Allah (diumumkan aib-aibnya di akhirat). dan barangsiapa yang berlaku
riya, maka akan dibalas oleh Allah dengan riya (diperlihatkan pahala amalnya,
namun tidak diberi pahala kepadanya)" (HR. Al Bukhari)
Juga dalam riwayat lainnya, Rasulullah
Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda "'sesungguhnya yang paling aku
takuti atas kalian adalah syirik kecil' para sahabat lalu bertanya 'apakah yang
dimaksud dengan syirik kecil itu wahai Rasulullah ?' beliaupun menjawab
'riya…'"(HR.Imam Ahmad)
b. Nifaq
Nifaq berasal dari
kata naafiqaa. Nifaq secara bahasa (etimologi) berarti salah satu lubang tempat
keluarnya yarbu’ (hewan sejenis tikus) dari sarangnya, di mana jika ia dicari
dari lobang yang satu, maka ia akan keluar dari lobang yang lain. Dikatakan
pula, ia berasal dari kata nafaq yaitu lobang tempat bersembunyi. Sedangkan
Nifaq menurut istilah syara’ (terminologi) berarti menampakkan keislaman dan
kebaikan tetapi menyembunyikan kekufuran dan kejahatan. Dinamakan demikian
karena dia masuk pada syari’at dari satu pintu (kebenaran) dan keluar dari
pintu yang lain (kesesatan). Karena perbuatan menereka yang amat buruk itu, Allah memperingatkan dengan firmanNya:
الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ
يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ
أَيْدِيَهُمْ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ
الْفَاسِقُونَ
artinya :
“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang
lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat
yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah,
maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah
orang-orang yang fasik.” (Q.s At-Taubah (9) : 67)
Allah menjadikan
hukuman di akhirat orang-orang munafiq lebih jelek dan rendah dari orang-orang kafir. Allah berfirman:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ
تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا
Artinya :
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling
bawah dari Neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong
pun bagi mereka.” (Qs.An-Nisaa’(4) : 145)
Disebabkan mereka
melakukan tipu daya kepada Allah SWT, Allah Azza wa Jalla berfirman:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ
وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلا
يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلا قَلِيلا
Artinya :
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas
tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan
malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah
mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (Qs.An-Nisaa’(4): 142)
Nifaq ada dua jenis: Nifaq I’tiqadi dan Nifaq ‘Amali.
1. Nifaq
I’tiqadi (Keyakinan)
Yaitu nifaq besar, di mana
pelakunya menampakkan keislaman, tetapi menyembunyikan kekufuran. Jenis nifaq
ini menjadikan pelakunya keluar dari agama dan dia berada di dalam kerak
Neraka. Allah menyifati para pelaku nifaq ini dengan berbagai kejahatan,
seperti kekufuran, ketiadaan iman, mengolok-olok dan mencaci agama dan
pemeluknya serta kecenderungan kepada musuh-musuh untuk bergabung dengan mereka
dalam memusuhi Islam. Orang-orang munafiq jenis ini senantiasa ada pada setiap
zaman.
Lebih-lebih ketika
tampak kekuatan Islam dan mereka tidak mampu membendungnya secara lahiriyah.
Dalam keadaan seperti itu, mereka masuk ke dalam agama Islam untuk melakukan
tipu daya terhadap agama dan pemeluknya secara sembunyi-sembunyi, juga agar
mereka bisa hidup bersama ummat Islam dan merasa tenang dalam hal jiwa dan
harta benda mereka. Karena itu, seorang munafiq menampakkan keimanannya kepada
Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya dan Hari Akhir, tetapi dalam
batinnya mereka berlepas diri dari semua itu dan mendustakannya.
Nifaq jenis ini ada
empat macam, yaitu: 1). Mendustakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
atau mendustakan sebagian dari apa yang beliau bawa, 2). Membenci Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam atau membenci sebagian apa yang beliau bawa,
3).Merasa gembira dengan kemunduran agama Islam, dan 4). Tidak senang dengan
kemenangan Islam.
2. Nifaq ‘Amali
(Perbuatan).
Nifaq ‘amali Yaitu melakukan
sesuatu yang merupakan perbuatan orang-orang munafiq, tetapi masih tetap ada
iman di dalam hati. Nifaq jenis ini tidak mengeluarkannya dari agama, tetapi
merupakan wasilah (perantara) kepada yang demikian. Pelakunya berada dalam iman
dan nifaq. Lalu jika perbuatan nifaqnya banyak, maka akan bisa menjadi sebab
terjerumusnya dia ke dalam nifaq sesungguhnya, berdasarkanhadist dari Ibnu Umar
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
أَرْبَعٌ
مَنْ كُنَّ فِيْهِ كَانَ مُنَافِقاً خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ
مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا، إِذَا
اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا
خَاصَمَ فَجَرَ
Artinya :
“Ada empat hal yang jika terdapat pada diri seseorang, maka ia menjadi seorang
munafiq sejati, dan jika terdapat padanya salah satu dari sifat tersebut, maka
ia memiliki satu karakter kemunafikan hingga ia meninggalkannya: 1) jika
dipercaya ia berkhianat, 2) jika berbicara ia berdusta, 3) jika berjanji ia
memungkiri, dan 4) jika bertengkar ia melewati batas.”
(Hr.
Bukhori dan Muslim)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar