Selasa, 06 Januari 2015

Perusak Ikhlas




Prilaku yang dapat merusak Ikhlas
Iblis telah bersumpah kepada Allah bahwa dia akan menyesatkan manusia dari jalan yang lurus dengan berbagai cara dan muslihat, kepada orang yang mau melakukan kebaikan ditanamkan rasa malas sehingga tidak jadi melakukannya, kepada orang yang sedang melakukan ditamakan rasa tergesa-gesa sehingga tidak sempurna hasilnya , dan kepada orang yang pandai lagi rajin serta teliti ditanamkan rasa benar sendiri sehingga timbul ujub dan meremehkan orang lain demikan seterusnnya.
Firman Allah SWT dalam Qs. Al-A’rof(7) : 16-17
قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ
ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
Artinya :
17). “Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,
18). kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Qs. Al-A’rof(7) : 16-17)
Diantara tipu daya syaitan yang dapat menghalangi kita untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik dengan ikhlas adalah sebagai berikut  

a. Riya dan Sum’ah
Riya berasal dari akar kata ru'yah yang artinya diperlihatkan yaitu jika seseorang menampakkan atau memperlihatkan ibadah bukan bukan mengharapkan pahala  dan keridhaan Allah SWT melainkan agar dilihat oleh manusia dengan harapan mendapatkan pujiannya, karena itu mereka yang berbuat riya dikatakan sebagai para pendusta agama. makna tersebut sejalan dengan firman Allah dalam Qs.Al-Ma’un(107) : 1-7),
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ (١) فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ (٢) وَلا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (٣) فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (٤) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاتِهِمْ سَاهُونَ (٥)الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (٦) وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ (٧)

Artinya : “1) Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?, 2). Itulah orang yang menghardik anak yatim, 3). dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. 4). Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, 5). (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, 6). orang-orang yang berbuat ria. 7). dan enggan (menolong dengan) barang berguna.     Qs.Al-Ma’un(107) : 1-7),
Sedangkan kata sum'ah berasal dari kata samma'a (memperdengarkan) yaitu orang yang berbuat amal soleh dan tidak diketahui oleh orang lain kemudian dia menceritakan perbuatannya tersebut dengan harapan agar orang yang mendengarnya memberi penghargaan atau pujian padanya.
 Izzuddin bin Abdussalam membedakan antara riya dan sum'ah dengan definisi, "Riya adalah sikap seseorang yang beramal bukan untuk Allah. sedangkan Sum'ah adalah sikap seseorang yang menyembunyikan amalnya untuk Allah namun ia bicarakan hal tersebut kepada manusia (Fathul Baari)". dalam hal ini menurutnya semua riya adalah tercela akan tetapi sum'ah adalah amal terpuji jika ia melakukannya karena Allah dan untuk memperoleh ridho-Nya, dan tercela jika dia membicarakan amalnya dihadapan manusia. ungkapan ini sesuai dengan firman Allah,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالأذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
Artinya : “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena ria kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”(Qs. Al Baqarah(2) : 264)
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda "'maukah kamu aku beritau tentang sesuatu yang menurutku lebih aku khawatirkan terhadap kamu daripada Al Masih Ad Dajjal' para sahabat menjawab 'baiklah wahai Rasulullah'. beliau pun bersabda 'syirik tersembunyi yaitu ketika seseorang berdiri sholat, dia per indah sholatnya karena tau ada orang lain yang memperhatikan'" (HR. Imam Ahmad)
Dan hadist yang  lain Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda "barangsiapa yang berlaku sum'ah, maka akan diperlakukan dengan sum'ah oleh Allah (diumumkan aib-aibnya di akhirat). dan barangsiapa yang berlaku riya, maka akan dibalas oleh Allah dengan riya (diperlihatkan pahala amalnya, namun tidak diberi pahala kepadanya)" (HR. Al Bukhari)
Juga dalam riwayat lainnya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda "'sesungguhnya yang paling aku takuti atas kalian adalah syirik kecil' para sahabat lalu bertanya 'apakah yang dimaksud dengan syirik kecil itu wahai Rasulullah ?' beliaupun menjawab 'riya…'"(HR.Imam Ahmad)

b. Nifaq
Nifaq berasal dari kata naafiqaa. Nifaq secara bahasa (etimologi) berarti salah satu lubang tempat keluarnya yarbu’ (hewan sejenis tikus) dari sarangnya, di mana jika ia dicari dari lobang yang satu, maka ia akan keluar dari lobang yang lain. Dikatakan pula, ia berasal dari kata nafaq yaitu lobang tempat bersembunyi. Sedangkan Nifaq menurut istilah syara’ (terminologi) berarti menampakkan keislaman dan kebaikan tetapi menyembunyikan kekufuran dan kejahatan. Dinamakan demikian karena dia masuk pada syari’at dari satu pintu (kebenaran) dan keluar dari pintu yang lain (kesesatan). Karena perbuatan menereka yang amat buruk  itu, Allah memperingatkan dengan firmanNya:
الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
artinya : “Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.”   (Q.s  At-Taubah (9) : 67)
Allah menjadikan hukuman di akhirat orang-orang munafiq lebih jelek dan rendah  dari orang-orang kafir. Allah berfirman:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا
Artinya : “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari Neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (Qs.An-Nisaa’(4) : 145)
Disebabkan mereka melakukan tipu daya kepada Allah SWT, Allah Azza wa Jalla berfirman:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلا قَلِيلا
Artinya : “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (Qs.An-Nisaa’(4): 142)

Nifaq ada dua jenis: Nifaq I’tiqadi dan Nifaq ‘Amali.
1.      Nifaq I’tiqadi (Keyakinan)
Yaitu nifaq besar, di mana pelakunya menampakkan keislaman, tetapi menyembunyikan kekufuran. Jenis nifaq ini menjadikan pelakunya keluar dari agama dan dia berada di dalam kerak Neraka. Allah menyifati para pelaku nifaq ini dengan berbagai kejahatan, seperti kekufuran, ketiadaan iman, mengolok-olok dan mencaci agama dan pemeluknya serta kecenderungan kepada musuh-musuh untuk bergabung dengan mereka dalam memusuhi Islam. Orang-orang munafiq jenis ini senantiasa ada pada setiap zaman.
Lebih-lebih ketika tampak kekuatan Islam dan mereka tidak mampu membendungnya secara lahiriyah. Dalam keadaan seperti itu, mereka masuk ke dalam agama Islam untuk melakukan tipu daya terhadap agama dan pemeluknya secara sembunyi-sembunyi, juga agar mereka bisa hidup bersama ummat Islam dan merasa tenang dalam hal jiwa dan harta benda mereka. Karena itu, seorang munafiq menampakkan keimanannya kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya dan Hari Akhir, tetapi dalam batinnya mereka berlepas diri dari semua itu dan mendustakannya.
Nifaq jenis ini ada empat macam, yaitu: 1). Mendustakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam atau mendustakan sebagian dari apa yang beliau bawa, 2). Membenci Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam atau membenci sebagian apa yang beliau bawa, 3).Merasa gembira dengan kemunduran agama Islam, dan 4). Tidak senang dengan kemenangan Islam.
2.      Nifaq ‘Amali (Perbuatan).
Nifaq ‘amali Yaitu melakukan sesuatu yang merupakan perbuatan orang-orang munafiq, tetapi masih tetap ada iman di dalam hati. Nifaq jenis ini tidak mengeluarkannya dari agama, tetapi merupakan wasilah (perantara) kepada yang demikian. Pelakunya berada dalam iman dan nifaq. Lalu jika perbuatan nifaqnya banyak, maka akan bisa menjadi sebab terjerumusnya dia ke dalam nifaq sesungguhnya, berdasarkanhadist dari Ibnu Umar Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ كَانَ مُنَافِقاً خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا، إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ
Artinya : “Ada empat hal yang jika terdapat pada diri seseorang, maka ia menjadi seorang munafiq sejati, dan jika terdapat padanya salah satu dari sifat tersebut, maka ia memiliki satu karakter kemunafikan hingga ia meninggalkannya: 1) jika dipercaya ia berkhianat, 2) jika berbicara ia berdusta, 3) jika berjanji ia memungkiri, dan 4) jika bertengkar ia melewati batas.”
(Hr. Bukhori dan Muslim)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar