Prilaku yang dapat merusak Ikhlas
Iblis telah
bersumpah kepada Allah bahwa dia akan menyesatkan manusia dari jalan yang lurus
dengan berbagai cara dan muslihat, kepada orang yang mau melakukan kebaikan
ditanamkan rasa malas sehingga tidak jadi melakukannya, kepada orang yang sedang
melakukan ditamakan rasa tergesa-gesa sehingga tidak sempurna hasilnya , dan
kepada orang yang pandai lagi rajin serta teliti ditanamkan rasa benar sendiri
sehingga timbul ujub dan meremehkan orang lain demikan seterusnnya.
Firman Allah SWT dalam Qs. Al-A’rof(7)
: 16-17
قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ
الْمُسْتَقِيمَ
ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ
وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
Artinya :
17). “Iblis menjawab:
"Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan
(menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,
18). kemudian saya
akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari
kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur
(taat).”
(Qs. Al-A’rof(7) : 16-17)
Diantara tipu daya
syaitan yang dapat menghalangi kita untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik
dengan ikhlas adalah sebagai berikut
a.
Riya dan Sum’ah
Riya
berasal dari akar kata ru'yah yang artinya diperlihatkan yaitu jika seseorang
menampakkan atau memperlihatkan ibadah bukan bukan mengharapkan pahala dan keridhaan Allah SWT melainkan agar
dilihat oleh manusia dengan harapan mendapatkan pujiannya, karena itu mereka
yang berbuat riya dikatakan sebagai para pendusta agama. makna tersebut sejalan
dengan firman Allah dalam Qs.Al-Ma’un(107) : 1-7),
أَرَأَيْتَ الَّذِي
يُكَذِّبُ بِالدِّينِ (١) فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ (٢) وَلا يَحُضُّ
عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (٣) فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (٤) الَّذِينَ هُمْ عَنْ
صَلاتِهِمْ سَاهُونَ (٥)الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (٦) وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ
(٧)
Artinya : “1) Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?,
2). Itulah orang yang menghardik anak yatim, 3). dan tidak menganjurkan memberi
makan orang miskin. 4). Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, 5).
(yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, 6). orang-orang yang berbuat ria.
7). dan enggan (menolong dengan) barang berguna. Qs.Al-Ma’un(107) : 1-7),
Sedangkan kata sum'ah
berasal dari kata samma'a (memperdengarkan) yaitu orang yang berbuat amal soleh
dan tidak diketahui oleh orang lain kemudian dia menceritakan perbuatannya
tersebut dengan harapan agar orang yang mendengarnya memberi penghargaan atau
pujian padanya.
Izzuddin bin
Abdussalam membedakan antara riya dan sum'ah dengan definisi, "Riya adalah
sikap seseorang yang beramal bukan untuk Allah. sedangkan Sum'ah adalah sikap
seseorang yang menyembunyikan amalnya untuk Allah namun ia bicarakan hal
tersebut kepada manusia (Fathul Baari)". dalam hal ini menurutnya semua
riya adalah tercela akan tetapi sum'ah adalah amal terpuji jika ia melakukannya
karena Allah dan untuk memperoleh ridho-Nya, dan tercela jika dia membicarakan
amalnya dihadapan manusia. ungkapan ini sesuai dengan firman Allah,
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالأذَى
كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ
الآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ
فَتَرَكَهُ صَلْدًا لا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ لا
يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
Artinya : “Hai
orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan
menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan
hartanya karena ria kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari
kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada
tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak
bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan;
dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”(Qs. Al Baqarah(2) : 264)
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam
bersabda "'maukah kamu aku beritau tentang sesuatu yang menurutku lebih
aku khawatirkan terhadap kamu daripada Al Masih Ad Dajjal' para sahabat
menjawab 'baiklah wahai Rasulullah'. beliau pun bersabda 'syirik tersembunyi
yaitu ketika seseorang berdiri sholat, dia per indah sholatnya karena tau ada
orang lain yang memperhatikan'" (HR. Imam Ahmad)
Dan hadist yang lain Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam
bersabda "barangsiapa yang berlaku sum'ah, maka akan diperlakukan dengan
sum'ah oleh Allah (diumumkan aib-aibnya di akhirat). dan barangsiapa yang berlaku
riya, maka akan dibalas oleh Allah dengan riya (diperlihatkan pahala amalnya,
namun tidak diberi pahala kepadanya)" (HR. Al Bukhari)
Juga dalam riwayat lainnya, Rasulullah
Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda "'sesungguhnya yang paling aku
takuti atas kalian adalah syirik kecil' para sahabat lalu bertanya 'apakah yang
dimaksud dengan syirik kecil itu wahai Rasulullah ?' beliaupun menjawab
'riya…'"(HR.Imam Ahmad)
b. Nifaq
Nifaq berasal dari
kata naafiqaa. Nifaq secara bahasa (etimologi) berarti salah satu lubang tempat
keluarnya yarbu’ (hewan sejenis tikus) dari sarangnya, di mana jika ia dicari
dari lobang yang satu, maka ia akan keluar dari lobang yang lain. Dikatakan
pula, ia berasal dari kata nafaq yaitu lobang tempat bersembunyi. Sedangkan
Nifaq menurut istilah syara’ (terminologi) berarti menampakkan keislaman dan
kebaikan tetapi menyembunyikan kekufuran dan kejahatan. Dinamakan demikian
karena dia masuk pada syari’at dari satu pintu (kebenaran) dan keluar dari
pintu yang lain (kesesatan). Karena perbuatan menereka yang amat buruk itu, Allah memperingatkan dengan firmanNya:
الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ
يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ
أَيْدِيَهُمْ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ
الْفَاسِقُونَ
artinya :
“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang
lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat
yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah,
maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah
orang-orang yang fasik.” (Q.s At-Taubah (9) : 67)
Allah menjadikan
hukuman di akhirat orang-orang munafiq lebih jelek dan rendah dari orang-orang kafir. Allah berfirman:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ
تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا
Artinya :
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling
bawah dari Neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong
pun bagi mereka.” (Qs.An-Nisaa’(4) : 145)
Disebabkan mereka
melakukan tipu daya kepada Allah SWT, Allah Azza wa Jalla berfirman:
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ
وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلا
يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلا قَلِيلا
Artinya :
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas
tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan
malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah
mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (Qs.An-Nisaa’(4): 142)
Nifaq ada dua jenis: Nifaq I’tiqadi dan Nifaq ‘Amali.
1. Nifaq
I’tiqadi (Keyakinan)
Yaitu nifaq besar, di mana
pelakunya menampakkan keislaman, tetapi menyembunyikan kekufuran. Jenis nifaq
ini menjadikan pelakunya keluar dari agama dan dia berada di dalam kerak
Neraka. Allah menyifati para pelaku nifaq ini dengan berbagai kejahatan,
seperti kekufuran, ketiadaan iman, mengolok-olok dan mencaci agama dan
pemeluknya serta kecenderungan kepada musuh-musuh untuk bergabung dengan mereka
dalam memusuhi Islam. Orang-orang munafiq jenis ini senantiasa ada pada setiap
zaman.
Lebih-lebih ketika
tampak kekuatan Islam dan mereka tidak mampu membendungnya secara lahiriyah.
Dalam keadaan seperti itu, mereka masuk ke dalam agama Islam untuk melakukan
tipu daya terhadap agama dan pemeluknya secara sembunyi-sembunyi, juga agar
mereka bisa hidup bersama ummat Islam dan merasa tenang dalam hal jiwa dan
harta benda mereka. Karena itu, seorang munafiq menampakkan keimanannya kepada
Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya dan Hari Akhir, tetapi dalam
batinnya mereka berlepas diri dari semua itu dan mendustakannya.
Nifaq jenis ini ada
empat macam, yaitu: 1). Mendustakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
atau mendustakan sebagian dari apa yang beliau bawa, 2). Membenci Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam atau membenci sebagian apa yang beliau bawa,
3).Merasa gembira dengan kemunduran agama Islam, dan 4). Tidak senang dengan
kemenangan Islam.
2. Nifaq ‘Amali
(Perbuatan).
Nifaq ‘amali Yaitu melakukan
sesuatu yang merupakan perbuatan orang-orang munafiq, tetapi masih tetap ada
iman di dalam hati. Nifaq jenis ini tidak mengeluarkannya dari agama, tetapi
merupakan wasilah (perantara) kepada yang demikian. Pelakunya berada dalam iman
dan nifaq. Lalu jika perbuatan nifaqnya banyak, maka akan bisa menjadi sebab
terjerumusnya dia ke dalam nifaq sesungguhnya, berdasarkanhadist dari Ibnu Umar
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
أَرْبَعٌ
مَنْ كُنَّ فِيْهِ كَانَ مُنَافِقاً خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ
مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا، إِذَا
اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا
خَاصَمَ فَجَرَ
Artinya :
“Ada empat hal yang jika terdapat pada diri seseorang, maka ia menjadi seorang
munafiq sejati, dan jika terdapat padanya salah satu dari sifat tersebut, maka
ia memiliki satu karakter kemunafikan hingga ia meninggalkannya: 1) jika
dipercaya ia berkhianat, 2) jika berbicara ia berdusta, 3) jika berjanji ia
memungkiri, dan 4) jika bertengkar ia melewati batas.”
(Hr.
Bukhori dan Muslim)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar