Keseharian orang yang ikhlas akan berbeda dengan
orang-orang yang terbiasa pamrih,
baik senyumnya, bahasa lisannya, pakaiannya, bahkan gaya hidupnya semua tampil
apa adanya tanpa dibuat-buat karena orang yang ikhlas akan berbuat dan
melakukan segala sesuatunya hanya untuk Allah SWT, dan Allah pun memberikan
kebaikan-kebaikan kepadanya yang terus menerus yang tiada putus-putusnya sebagai ganjaran dari
keikhlasannya tersebut diantaranya :
1. Memiliki Perasaan
yang Positif
Berprasangka
positif atau berpikir positif sebenarnya harus dimulai dengan berperasaan
positif atau merasa positif (positive feeling). Jadi pada mulanya
dimulai dari hati. Bagaimana berpikir positif kalau perasaan diliputi oleh
ion-ion negatif? Mengejar kesuksesan dan kebahagiaan dengan berpikir positif
saja memang bisa berhasil. Namun, hasilnya akan lebih optimal jika kita
menggunakan perasaan positif dan menyelaraskannya dengan pikiran positif.
Berapa
banyak keinginan yang tercapai ketika perasaan Anda positif alias ikhlas?,
Sebaliknya, ketika perasaan Anda negatif alias dipenuhi nafsu dan emosi, apa
yang Anda rasakan? Tentu akan mempengaruhi fikiran dan emosi maka akan Makin
jauh dari “kemudahan”?.
Bayangkan
ketika kita berada di zona nafsu. Kita selalu diliputi rasa cemas, takut, dan
penuh amarah dan kedengkian . Alhasil, kita seperti kehabisan tenaga. Kita
seperti memasuki pusaran gelap yang menyedot energi. Semangat pun tak banyak
tersisa karena zona ini memang menarik energy positif yang kita miliki.
Sebaliknya, ketika hati terasa lapang dan ikhlas (positive feeling),
kita akan merasa penuh tenaga. Karena memang energi yang menyelimuti zona
ikhlas adalah berbagai perasaan positif yang berenergi tinggi seperti rasa
syukur, sabar, fokus, tenang dan bahagia.
Itulah
sebabnya, di saat-saat energi kita terkuras oleh kesedihan, kekecewaan,
kekesalan, dan kemarahan, cara yang paling bijak adalah dengan mengikhlaskan
sesuatu yang menimbulkan perasaan tersebut. Ikhlas berarti kita menghentikan
proses berkurangnya energi dan mulai melakukan pengisian ulang (self
recovery). Terkadang dalam proses tersebut kita membutuhkan penyaluran
energi positif dari orang lain lewat kata-kata atau perhatiannya, atau dari
alam lewat kesejukan dan keindahan yang dimilikinya.
2. Sumber pemberi
Kekuatan
Banyak
orang yang pesismis ketika menghadapi suatu persoalan yang berat, fikiran dan
perasaan sudah mempertanyakan bahwa apa mungkin masalah ini dapat terselesaikan
karena demikian berat rasanya mustahil, karena menurut penilainnya persoalan
tersebut diluar batas kemampuannya, namun ketika dia bisa ikhlas, seperti air
yang selalu mengalir ternyata semuanya dapat diatasi.
Pada
prinsipnya, ikhlas merupakan keharusan hakiki yang mesti ada dalam diri setiap
orang. Ketika ikhlas itu ada, akan kuat dan tangguhlah dirinya. Sebaliknya
ketika ikhlas telah hilang, maka akan rapuh dan lemahlah dirinya. Ketika
seseorang mengatakan, ”Ikhlaskan saja,” ketika mengalami kehilangan seseorang
atau sesuatu yang dicintainya. Artinya ”Kuatkan kembali dirimu, jangan larut
dalam kesedihan yang akan menghabiskan energi positifmu.”
Hal
itu karena manusia itu sendiri diciptakan dari fitrah (ruh
suci, Q.S. al-Rûm/30: 30). Fitrah itu dalam perkembangan hidup di dunia, tidak
selalu suci karena akan dipengaruhi atau dikotori oleh berbagai faktor
eksternal. Semakin kotor fitrah itu, manusia akan semakin lemah dan rapuh
sampai pada gilirannya merana dan sengsara. Sebaliknya, bila fitrah itu
terus terpelihara, disucikan, dimurnikan, dan dirawat, maka pemiliknya akan
semakin kuat, tegak berdiri, dan kokoh. Ikhlas berfungsi memelihara fitrah itu
agar terus bersih dan murni.
3. Meningkatkan jiwa
sosial dan Solidaritas
Apa
yang dirinya rasakan tidak enak, seperti itulah apa yang
dirasakan orang lain, sakit bila dipukul maka tidak memukul, sakit difitnah
tidak memfitnah, tidak enak hidup dalam kemiskinan, penderitaan berusaha
membantu orang yang miskin dan menderita,
Semakin besar ikhlas melekat dalam hati, keinginan berbagi semakin
besar. Hal itu karena manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang suka berbagi
kesenangan dengan orang lain. Sebaliknya, orang yang tidak ikhlas, tidak mau
berbuat sesuatu kalau tidak membawa keuntungan pribadi.
Dia
hanya mementingkan diri sendiri, menjadi manusia egois. Manusia egois hatinya
selalu berkeluh kesah. Bila ditimpa kesusahan, resah, dan ketika mendapat
kekayaan, amat kikir (QS al-Ma’ârij [70]: 19-21). Sedangkan manusia ikhlas
adalah manusia sosial. Dia senang membagi kesenangan kepada orang lain. Semakin
dibagi kesenangan itu, Allah melipatgandakan dengan berbagai kesenangan yang
lain. Dia bahagia telah membagi, dan gelisah karena belum dapat kesempatan
untuk membagi.
4. Memberi kekayaan
dalam jiwa manusia
Ukuran
kaya sebetulnya sangat sederhaana yaitu orang yang merasa cukup bila ada yang dimakan untuk hari
ini dan esok hari, sementara orang yang miskin adalah orang yang selalu merasa
kurang ditengah bertumpuknya makanan dan selalu mengharap apa yang ada pada
orang lain dan memintannya walaupun kondisinya lebih layak memberi dari pada
meminta kepada orang tersebut.
Tanda
orang kaya dilihat dari pemberiannya. Semakin banyak pemberiannya, semakin kaya
orang itu. Karena orang ikhlas itu suka berbagi, maka sesungguhnya dia orang
kaya, meskipun mungkin miskin harta. Kalaulah tidak kaya harta, tapi kaya hati,
syukur alhamdulillah bila kaya harta pula. Maka Rasulullah Swa. Bersabda:
”Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah”. Allah berfirman: ”Kamu
sekali-kali tidak akan mendapatkan kebaikan sehingga mampu memberikan apa yang
kamu cintai”. (Q.S. Ali Imrân [3]: 92). Hanya dengan keikhlasan yang tinggi
seseorang dapat memberikan harta yang paling dicintai. Itulah orang kaya.
5. Ikhlas
meningkatkan kinerja
Betapa
tidak, guru yang ikhlas tidak perlu diawasi oleh kepala sekolah. Karyawan yang
ikhlas, tidak penting direktur ada atau tidak. Pegawai yang ikhlas, tidak
memandang kehadiran atasan atau majikan. Semua bekerja tanpa pamrih. Mereka
senang melakukan pekerjaan itu dengan sepenuh hati. Ikhlas beramal hasil
maksimal, demikian pepatah mengatakan. Maka hasil dari perbuatan al-mukhlishîn (orang-orang
ikhlas) itu adalah kemajuan, kejayaan, dan kemakmuran.
Oleh
karena itu, Ibn Hazm menyebutkan bahwa ikhlas ibarat ruh dalam jasad. Jasad
akan mati tak bertenaga ketika kehilangan ruh. Itulah maka kenapa para generasi
salaf dan para mujahid dapat mengantarkan umat Islam menuju kejayaannya. Karena
mereka hidup, memiliki ruh, dan bangkit. Mereka bekerja dan berjuang semata
ikhlas lillahi ta’ala. Amal perbuatan mereka bergizi, penuh makna, dan
kekuatan, karena ada ruhnya, yaitu ikhlas. Amal yang demikian mengantarkan umat
mencapai masa kejayaannya.
Coba
perhatikan para pejuang kemerdekaan negeri ini. Betapa mereka hidup begitu
bersahaja meskipun mereka sebagian menjadi pejabat pemerintahan. Keikhlasan
mereka tercermin dari tidak banyak tuntutan terhadap kesejahteraan kepada
Republik yang baru lahir kala itu. Bagi mereka kerja adalah sebuah panggilan
suara hati. Itulah sebabnya nama mereka tetap dikenang sebagai pahlawan yang
tidak hanya menginspirasi dengan kata-kata tetapi juga lewat keteladanan.
Berbeda
dengan kondisi, dimana setiap orang berbuat penuh pamrih, ukuran perbuatan
dinilai dari banyaknya orang yang terkagum-kagum. Hidup penuh kebohongan,
kemunafikan dan kepura-puraan. Tampak hebat padahal rapuh, terlihat kaya
padahal miskin, kelihatan khusyu’ padahal jahat. Maka kebobrokan akan melanda
pelakunya, keluarga, bangsa dan negaranya. Hidup serba semu, kekayaan nisbi
sebagai hasil korupsi, jabatan diraih karena penuh tipu dan rekayasa, dan
bermu’amalah penuh basa basi menebar janji tanpa bukti. Ruh telah hilang dari
jasad. Ikhlas telah lenyap dari amal perbuatan.
6. Ikhlas
menciptakan hidup damai
Orang
yang ikhlas tidak pernah membuat masalah, sehingga menimbulkan kekacauan,
keributan, dan kerusakan. (Q.S. al-Rûm [30]: 41). Orang yang ikhlas tidak pula
suka menghindar dari masalah, lari dari kenyataan, lalu menyalahkan orang lain.
Orang yang ikhlas adalah manusia problem solver (pemecah masalah)
yang tidak pernah menghindar dari masalah. Dia menghadapinya dengan gagah
berani, mencari solusi dengan cara-cara yang cerdas dan bijak. Manusia problem
solver (pemecah masalah) kokoh berdiri bagaikan karang, menghadapi
masalah dengan jiwa besar yang dibangun dari ruh ikhlas. Orang ikhlas adalah
manusia wajar, santun, ramah tidak gampang marah.
Digambarkan
dalam al-Quran sebagai orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan wajar dan
ketika diajak berbicara oleh orang-orang bodoh mereka menghadapinya
dengan salâm (kedamaian). (Q.S. al-Furqân (25): 36).
Masyarakat yang terdiri dari manusia ikhlas akan menebarkan kedamaian, menjadi
sebuah dâr al-salâm (negeri damai) yang akan mendapatkan salâm
qawlan min Rabb Rahîm (ucapan kedamaian dari Tuhan Yang Maha
Penyayang, Q.S. Yâsin (36): 58).
Demikian besar manfaat bagi orang yang mampu
menjaga diri untuk selalu bersikap dan berbuat dengan ikhlas, sudah selayaknya
kita harus belajar dengan sungguh-sungguh dan berlatih untuk selalu ikhlas agar
dapat menjadi kebiasaan dalam hidup
sehari-hari sehingga pada akhirnya akan membentuk karakter menjadi manusia yang
ikhlas dan terus bermohon kepada Allah
agar dapat mengikuti jalan orang-orang yang ikhlas kepada syariat dan takdir yang telah ditentukan Allah SWT.
Allah SWT berfirman :
إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ
حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Artinya :
“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan
bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk
orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (Qs. AL-An’am(6) : 79)
قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ
الْعَالَمِينَ
لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ
Artinya :
162).“Katakanlah:
"Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah,
Tuhan semesta alam, 163). tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang
diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri
(dengan ikhlas kepada Allah)". (Qs. AL-An’am(6) : 162-163)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar